Kanana Aksara

powerd by Unagiimo Project

Nasib Anak Sundal

Kategori │Puisi/Sajak

Nasib anak sundal
Setiap hari bergelayaran mencari makan
Rambutnya berantakan
Penyakit bagi sang saudara tiri

Dan rumah seperti kandang pemecutan
Punggungnya memar-memar
Dan bekas luka bakar

Suatu saat, ia mungkin akan pergi
Suatu saat, ia akan memulai hidup baru






  • Sawah Kami T'lah Hilang

    Kategori │Puisi/Sajak

    Setelah kami penat meladang
    Peluh-peluh meradang
    Di luasnya hamparan tumbuhan berbuah butiran beras, hasil kerja keras
    Kecuali para pemilik emas tak berdatangan
    Hingga meraup seluruh angin yang bernyawa menjadi parau
    Kulit kami seperti tanah yang retak-retak
    Hilangnya nuansa hijau seperti membesarkan dahaga
    Dan rumput-rumput menjadi tandus
    Bahkan embun sudah berpindah jarak, lebih jauh lagi
    Burung yang berterbangan jauh
    Sudah tidak hinggap lagi di orang-orangan sawah
    Kerbau yang sudah tidak mau mencumbu tanah gembur kami--membajak
    Petani kehilangan mata pencahariannya
    Senyum kami yang biasa tertoreh setibanya musim panen, hilang
    Digantikan uang yang sangat banyak
    Apakah uang bisa menyejukkan mata?
    Apakah juga bisa mengenyangkan perut orang banyak?
    Takkan ada lagi perempuan-perempuan yang mencuci di kali
    Karena semua irigasi sudah dilapisi aspal berwarna hitam legam
    Seperti kokoh dengan lapisan bajanya
    Tanah kami sudah bertiarap di bawahnya
    Ya, sawah kami t'lah hilang


  • Mati Sajalah!

    Kategori │Puisi/Sajak

    Manusia skeptis
    Sibuk mengancuk
    Menggelitik isi kepala para kaum nalar
    Menimbulkan aposteriori
    Dan celoteh aneh-aneh
    Berbeleng sudah
    Pusing kepala dibuatnya
    Mati sajalah!


  • MATAHARI

    Kategori │Puisi/Sajak

    Apakah manusia hanya bisa menilaiku pada satu sisi?
    Otak mereka bungkam oleh argumentasi
    Katanya, panasku hanya membakar kesejukan menjadi ilusi

    Pada galaksi,
    Aku yang berambisi
    Nanar, dengan setiap cahaya yang beredar membulatkan visi
    Juga membentuk suatu koagregasi

    Mengertilah,
    Aku bukan hendak membakarmu dengan lidah apiku
    Tapi, aku hanya menjalankan tugasku
    Menjadi ciptaan Tuhan yang sadik
    Tabik!




  • Jatuh Hati

    Kategori │Puisi/Sajak


    Katanya cinta memang banyak bentuknya
    Dan kutahu pasti
    Sungguh aku jatuh hati

    Kuterpikat pada tuturmu
    Aku tersihir jiwamu
    Terkagum pada pandangmu
    Caramu melihat dunia
    Kuharap kau tahu bahwa aku
    Terinspirasi hatimu
    Ku tak harus memilikimu
    Tapi bolehkah aku selalu di dekatmu?

    (Raisa – Jatuh Hati)

    Seperti pada ruang hatimu
    Yang sudah terisi
    Lihatlah! Pada aku yang tetiba ingin mengisi
    Memanggilmu dengan suara lirih
    Dalam permainan asmara diselimuti segala upaya

    Di hadapan lautan yang luas
    Di balik gelagah yang menjulang
    Kau yang juga memanggilku dengan suara lirih
    Ya, lirih
    Namun, lebih jauh lagi
    Seperti aba-aba pada sebuah pertarungan
    Untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan
    Seperti suka duka yang aku tutupi
    Lemah, membiru wajahku serta mengumpat dari pandang tulusmu—sepi
    Air mukamu sudah memberiku isyarat
    Bahwa cinta itu hadir tanpa syarat

    Yang penting,
    Bukanlah soal kekalahanku yang tak boleh menduduki taman hatimu
    Atau kemenanganku atas meraih segala perhatianmu
    Biar bagaimanapun pencapaianku
    Gapailah terus segala yang kuusahakan

    Kau selalu tahu
    Sekali lagi, aku memang terkagum pada pandangmu
    Maka, kenanglah aku sebagai bidak yang telah berperang
    Dalam hujan lebat untuk tetap ada di depan matamu
    Meski aku tak sebegitu hangat seperti mentari yang lebih dulu terbit pada pagimu—terang



  • Kampong Pandan

    Kategori │Puisi/Sajak

    Pukul 10 pagi,
    Rasanya aku seperti baru terbangun pada pukul 7 pagi—di negaraku
    Udara lembut dan hangat menyapu pipi
    Membuat mata membelalak takjub melihat gedung-gedung berbaris rapi
    dari rumah lantai dua ini
    serta lampu kerlap-kerlip dari ujung menara Kuala Lumpur yang berpendar

    Tetiba aku beringsut turun menjejali setiap anak tangga
    Menuju aspal di depan rumah yang sedikit hangat
    Jalanan yang rapi, dengan mobil yang terparkir di mana-mana
    Dan di ujung jalan terdapat papan dengan tulisan “Lorong 4”

    Aku yang berlari kecil,
    Tak sabar ingin sampai di danau—di ujung jalan sana
    Juga bermain gelembung dengan wajah yang merona
    Ditemani cahaya matahari yang masuk dari celah-celah daun

    Kepada semua yang ada
    Kini aku t’lah menjadi akrab
    Kepada bunga sepatu yang tumbuh di depan pagar berwarna hijau muda
    Menyaksikan aku yang biasa meneduhkan diri
    Dari terik matahari



  • Harga Mati

    Kategori │Puisi/Sajak

    Mungkin, kau tutup hitammu
    demi gemertak cerah ceriamu.
    Aku takut kau cumbu nafas-nafas sejenisku.
    Enyahlah liarmu dari kidung keraguanku.
    Segeralah kau membelalak mata permata silaumu.
    Aku tak kuat, dan hanya mengernyitkan padu.

    Sekelumit harapan sudah kutawarkan atas namamu, berlabuh.
    Kau sontak egomu hanya untuk bernafas dalam teduh.
    Aku rindu kau yang bersimpuh.
    Jiwa-jiwaku bergerak, berimbuh.

    Aku sesak, terisak beriak.
    Kau geliatkan harapanku seperti arak.
    Bersorak teriak, retak berotak.
    Aku... Bernada padamu seperti hentakan musik yang berdetak.
    Tak berkerak.

    Aku cinta kamu, harga mati!
    Selalu bertepi di atas api.
    Mutu manikam indah surgawi.
    Aku ingin hidup bersamamu.
    Sampai lusuh serat-serat emosiku.




    Oleh: Aksara Suara
    Cikarang, 5 Maret 2017


  • Apakah Ini Rekayasa?

    Kategori │Puisi/Sajak


    Sepulang tadi, aku riuh menebar kata
    Meronta batin, memupuk asa
    Kuasingkan sambar petir hari ini dengan mengosongkan mata
    Seraya kau berkata kepadaku, "Masuk saja kau ke dalam buih. Lupakan riak-riak yang kusipu di hadapanmu!"
    Apakah ini hanya sebuah rekayasa?

    Seperti kata pepatah: "Mulutmu; Harimaumu"
    Lekaslah kau bergegas dari kepalsuanmu
    jiwaku terimpit dosa-dosa masa lalu
    Kau begitu tak layak disandingkan dengan manusia berwajah pilu
    Pengobral rindu

    Aku khilaf, ketika nanar kulesakkan dalam arahmu yang begitu sensitif
    Kau tak perlu berlaku adil di hadapan nalar-nalar yang usang
    Nadiku terasa getir saat kau memburai kisah yang berakhir perang
    Aku terlalu jalang
    Sampai kutak tahu arah jalan pulang


    Jika memang nanti kau jadi bagian dari paduanku,
    lepaskan semua isyarat-isyarat yang membuatku merasa rapuh
    Hiduplah dengan rayuan dan kata-kata yang kusumpah atas namamu.
    Kaulah kesayanganku!





    Oleh: Aksara Suara
    Cikarang, 7 Maret 2017


  • Kau, Nenek yang di Seberang Sana

    Kategori │Puisi/Sajak


    Dari seberang jalan, kulihat bangunanmu tampak sedikit lebih besar dari tinggi badanmu: sembada.
    Penuh dengan kemasan-kemasan kecil hasil keringat perjuangan: simpul rasa.
    Jauh dari hiruk-pikuk hegemoni konsumtif kaum urban jemawa: angkuh angkara.

    Kau rampai sebuah kayu menjadi alas lelah dan simpuhmu.
    Kau begitu seimbang dengan hakikatmu; silih asuh.
    Kau nyata memberi tetesan darah yang hanya dibatasi kulit kerontangmu.
    Tak peluh rimbamu.
    Aku hidup dari bagian keluh kesahmu.

    Kau, Nenek yang di seberang sana, tetaplah hidup dalam aroma yang segar; hidup dengan bau pasar yang terpendar.
    Tak ingin kau terpapar sinar yang mengular di semak belukar.
    Tetaplah pintar dalam gusar.
    Mekarlah mekar.
    Berpijar.

    Aku rindu dengan rindu kepada-Nya.
    Kau tampak tua, tapi kau seperti serdadu muda.
    Menahan payah, memburu asa.
    Kau simpan lumbung kebaikanmu dengan luka yang merona.
    Surgamu begitu nyata.

    Untuk kau, Nenek yang di seberang sana, aku ucap doa untukmu.



    Oleh: Aksara Suara
    Cikarang, 3 Maret 2017


  • Pengemis Buta

    Kategori │Puisi/Sajak



    Apabila dinginnya pagi menyeruak masuk ke tenggorokan
    Seseorang dengan baju compang-campingnya memasang badan
    Saat kumandang adzan
    Bergegas pergi menuju tempat damai nan sejuk, dihias dengan nama Tuhan
    Pada dinding depan
    Di situlah dosa-dosa yang menggelora setiap harinya diredakan

    Mata yang t'lah layu
    Bertopang pada kayu
    Menjamah setiap yang disentuh, pelan-pelan
    Memasuki setiap halaman
    Pada rumah yang besar-besar
    Di pinggir jalan menuju pasar

    Anak-anaknya t'lah pergi tanpa meninggalkan sedikit hati
    Menambah luka dan bencana bagi sang bapak: pengemis--buta
    Bahkan meremas segala kedamaian
    Menambah kebimbangan; menutup keindahan
    Pada hidup yang sudah diukir

    Kini, ia hanya tidur beralaskan koran sisa dari warung kopi
    Bau tanah akibat bekas hujan sudah tak terasa lagi
    Mungkin sudah berpuluh-puluh kesedihan tertambat pada jiwanya
    Menjadi teman setia di kala ia menengadahkan tangan demi sesuap nasi